GENERASI INSTAN

Kesamaan riwayat dan kesamaan kehendak telah menyatukan anak muda dalam ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Ikrar itu pun menjadi mantra mujarab yang mampu mengantarkan bangsa ini meraih kemerdekaan.Tragisnya, ikrar Sumpah Pemuda itu kini sudah sayup-sayup terdengar dihempas gelombang selera generasi baru yang gemar hura-hura. Generasi baru yang mulai mengidap penyakit amnesia sejarah, penyakit lupa riwayat.

Sungguh ironis memang. Zaman yang mengagungkan modernitas ini justru dihuni generasi kerdil. Bukan hanya kerdil dalam mewarisi nilai sejarah, tapi licik berpikir malah hampa kehendak. Generasi sekarang justru tidak mampu memahat karya agung yang bisa dikenang sepanjang perjalanan detak jarum detik. Tawuran tidak hanya terjadi di jenjang SMP, SMA. Bahkan lebih tragis lagi calon-calon intelektual bangsa di kampus-kampus juga terlihat lebih memprihatinkan dengan mempermasalahkan hal-hal yang sepele yang berujung pada anarkisme.

Kaum muda sekarang cenderung disandera kemewahan sehingga mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Lihatlah disekeliling kita berapa banyak anak seumuran sekolah yang menenteng atau asyik membaca buku dibanding dengan menggenggam handphone yang hanya sekedar berfacebook ria atau memainkan multimedia di handphone. Inilah generasi instan

Generasi yang membunuh proses demi menggapai hasil. Media massa terutama audio visual turut berperan membidani kelahiran generasi instan itu. Akibatnya, ketika hasil tidak bisa diraih sekejap, tidak sedikit anak muda yang terjebak narkoba yang angkanya setiap tahun cenderung meningkat. Mereka juga terjerembap dalam kubangan kriminalitas, hidup hura-hura, dan lebih senang mencontek daripada belajar. Jangan kaget, nasionalisme mulai memudar di sanubari generasi penerus bangsa ini.

Generasi instan itu tentu saja terutama dilahirkan para pemimpin bangsa yang gemar korupsi untuk menumpuk harta dan hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Kaum muda pun telah kehilangan sosok panutan lantaran kelakuan pemimpin jauh dari ucapan. Pemimpin tidak lagi satu kata dengan perbuatan. Benar kata Kahlil Gibran bahwa orang yang mendatangkan bencana untuk bangsanya adalah orang yang tidak menebar benih, tidak menyusun bata, tidak menenun kain, tapi menjadikan politik sebagai mata pencarian.

Politik sebagai mata pencarian justru dipertontonkan secara kasatmata oleh politikus yang menyandang predikat sebagai wakil rakyat. Para politikus itu sengaja memutuskan urat malu sehingga tak segan berperan sebagai calo anggaran. Gairah pelesir ke luar negeri dikemas dalam kegiatan studi banding yang dibiayai anggaran negara.

Jadi, jangan heran, sudah menjadi sebuah fenomena, kaum muda kini berlomba-lomba masuk pentas politik. Tujuan mereka tentu saja bukan berlomba-lomba mengabdikan kekuasaan untuk kepentingan rakyat. Mereka justru ingin menggenggam kekuasaan sebagai jalan pintas mengisi pundi-pundi pribadi Karena itu, pahatan prestasi di atas kanvas perlombaan internasional seperti memenangi Olimpiade Fisika oleh sejumlah pelajar merupakan setetes air yang menghapus dahaga harapan. Masih ada harapan bagi generasi muda untuk mengukir nama bangsa dan negara di tengah kecenderungan serbainstan.

Tidak ada kata terlambat. Sudah tiba waktunya bagi kawula muda mengarungi riwayat perjuangan mulia generasi terdahulu. Tafsir riwayat itu bisa menjadi modal untuk memotivasi diri dan menghapus stempel generasi instan. Semangat Sumpah Pemuda mestinya selalu menggelora dalam keseharian sanubari anak muda bangsa ini, bukan cuma sekali setahun setiap 28 Oktober. Dengan penuh keyakinan dan tekad.... kita jadikan momentum ini melebihi apa yang menjadi cita-cita Bumi Pertiwi .....